Ngobrol soal Tuhan

Bahan sharing

Ngobrol soal Tuhan tanpa bikin orang kabur

Kamu kerja bareng dia bertahun-tahun, dan sampai sekarang dia belum tahu kamu orang percaya. Bukan karena kamu nggak peduli. Karena kamu takut salah ngomong, terus dia malah menjauh.

Ada caranya. Lihat dulu tanda-tandanya, nanti ketahuan temanmu lagi di fase mana. Habis itu kerjakan yang ada di fase itu saja. Nggak usah maksa, nggak usah canggung.

3 hal untuk diketahui

3 fase

Perjalanan orang ada 8 langkah, dikelompokkan jadi 3 fase. Ketuk satu fase untuk lihat tanda-tandanya dan apa yang harus kamu lakukan.

Kalau masih ragu

Source: Salt & Light Process dan Saline Process (IHS Global), Going Public With Your Faith, Living Proof.

Garam secukupnya

Bayangkan tiga mangkuk sup yang sama, cuma beda garamnya.

Mangkuk sup polos tanpa garam, terlihat hambar
Mangkuk kiri, hambar

Tidak ada garam sama sekali. Ini kalau kita kerja bareng orang bertahun-tahun dan dia tidak pernah tahu kita orang percaya.

Mangkuk sup mengepul dengan taburan garam yang pas
Mangkuk tengah, pas

Supnya jadi enak, orang malah nambah. Ini yang kita mau.

Mangkuk tertimbun gunungan garam sampai tumpah ke meja
Mangkuk kanan, dibuang

Kebanyakan garam, tidak bisa dimakan. Ini kalau kita mendesak, menghakimi, atau ngomong soal Tuhan terus tiap ketemu.

Jangan tanya: hari ini saya sudah cerita berapa banyak soal Tuhan?

Tanya: hari ini orang ini sanggup terima seberapa banyak?

Satu anak tangga

Tidak ada orang yang naik dari lantai dasar ke lantai lima sekali lompat.

Tim melangkah naik satu anak tangga dengan tenang
Naik 1 langkah

Tiap kali ngobrol, targetnya cuma naik satu. Dari cuek jadi kenal. Dari kenal jadi mulai percaya. Itu saja sudah berhasil.

Tim mencoba melompati banyak anak tangga sekaligus dan kehilangan keseimbangan
Bukan lompat

Orang yang masih di tangga bawah lalu diajak berdoa terima Yesus bukan cuma menolak. Dia turun, dan lain kali lebih sulit.

Jaraknya dari "tidak peduli sama sekali" sampai "percaya Yesus" itu jauh. Ada 8 langkah di tengahnya, dan itu yang dibagi jadi 3 fase di halaman depan.

Lempar, jangan tarik

Kita cuma buka pintu. Kalau dia mau masuk, dia sendiri yang jalan.

Tim mempersilakan dengan tangan terbuka, temannya melangkah masuk sendiri
Dia jalan sendiri

Kita bilang satu hal, lalu lepas. Karena kita tidak minta apa-apa, dia tidak merasa ditekan. Dan karena tidak canggung, besok kita berani lagi.

Tim menarik pergelangan tangan temannya yang menahan badan dengan wajah tidak nyaman
Diseret

Begitu kita menarik, dia menahan. Yang tadinya cuma malas jadi menolak.

Cara tahu dia mau masuk atau tidak

Wajah tertarik, condong ke depan, mata berbinar
Hijau

Dia nanya balik, atau ikut cerita soal dirinya. Pintu terbuka, boleh lanjut.

Senyum sopan tapi pandangan melirik ke samping
Kuning

Dia mengangguk lalu ganti topik. Dengar, tapi belum siap. Berhenti, lanjut ngobrol biasa.

Tangan bersedekap, rahang mengeras, memalingkan muka
Merah

Dia diam kaku, mukanya berubah, atau nyindir. Ada luka lama. Mundur ke kebaikan biasa saja.

  • Kesalahan yang paling merusak: lampunya kuning tapi dibaca hijau, lalu dipaksa lanjut. Di situlah garamnya jadi kebanyakan.

Kalau ragu, tanya saja

Boleh saya lanjut, atau ganti topik aja?

Stop saya kalau kejauhan ya

Nggak apa-apa kalau kamu nggak setuju, kita tetap temen

Orang yang dikasih tombol berhenti biasanya justru tidak menekannya. Yang tidak dikasih tombol malah pergi.

Yang bikin kita nggak berani

Sebelum bicara soal cara, beresin dulu yang di dalam. Biasanya masalahnya bukan kita nggak tahu caranya, tapi kita takut.

Delapan alasan, dan jawabannya

Takut ditolak, nanti dia menjauh

Kalimat kecil itu cuma 30 detik dan nggak minta jawaban apa-apa. Karena kita nggak minta, dia nggak bisa menolak. Nggak ada yang canggung.

Takut dianggap nggak profesional di kantor

Justru kebalikannya. Aturan izin, peka, hormat bikin cara ini lebih sopan daripada obrolan politik di ruang istirahat.

Saya nggak hafal Alkitab

Kamu saksi, bukan ahli. "Saya nggak tahu, nanti saya cari tahu ya" itu jawaban yang sah, dan malah bikin orang makin percaya sama kamu.

Hidup saya sendiri belum bener, munafik dong

Kamu cerita soal Dia, bukan soal dirimu. Justru cerita soal kegagalan sendiri itu yang paling menembus.

Nggak ada waktu, kerja terus

Ini dikerjakan di tengah kerja, bukan nambah jadwal. 30 detik.

Saya benci penginjilan yang maksa

Betul, itu garam kebanyakan. Cara ini justru obatnya.

Teman saya bukan orang Indonesia, beda budaya

Pakai kata dan contoh dari dunia dia, bukan dunia kita. Rasul Paulus dulu di Atena juga mengutip penyair mereka, bukan kitab kita.

Malu, nanti dikira aneh

Ini bukan soal tahu atau nggak tahu, ini soal berani. Obatnya doa dan satu keputusan kecil hari ini.

Latihan minggu ini. Tulis alasan kamu sendiri, jujur, tanpa disaring. Terus tulis satu kalimat jawaban yang kamu percaya. Simpan, baca tiap kali ragu.

Pagar yang jangan dilanggar

Cara ini bisa jadi jahat kalau pagarnya dilepas. Tiga kata yang mengatur semuanya: izin, peka, hormat.

Tujuh hal yang jangan

  • Jangan pakai posisi. Kalau kita bosnya, atau dia bergantung sama kita soal kerja atau uang, dia nggak bebas menolak. Itu bukan ngobrol, itu tekanan.
  • Jangan pakai bantuan sebagai syarat. Bantu karena sayang, titik. Jangan ada rasa "saya sudah bantu, jadi kamu harus dengerin".
  • Jangan manfaatkan orang yang lagi hancur. Waktu susah memang hati orang terbuka, tapi masuk tanpa izin di saat itu tetap salah.
  • Jangan langgar batas yang sudah dia bilang. Kalau dia bilang jangan dibahas, ya sudah, sampai dia sendiri yang buka lagi.
  • Jangan bicarakan dia di belakang sebagai proyek. Dia orang, bukan target.
  • Jangan lebih-lebihkan cerita. Sekali ketahuan dibesar-besarkan, semua yang kita bilang ikut diragukan.
  • Jangan langgar aturan kantor. Kalau memang dilarang bahas agama di jam kerja, hormati. Masih ada makan siang, masih ada di luar jam.

Cara ngeceknya gampang

Sebelum ngomong, tanya diri sendiri: kalau dia tahu isi kepala saya sekarang, dia merasa disayang atau merasa lagi digarap?

Kalau jawabannya digarap, jangan ngomong dulu. Doakan saja.

Ayat yang jadi dasarnya

Kisah 1:8

"Kamu akan menjadi saksi-Ku." Saksi itu cerita apa yang dia lihat, bukan memenangkan perkara.

Matius 5:13

Kamu garam dunia. Garam yang tawar dibuang, tapi kebanyakan garam juga merusak.

Kolose 4:6

Perkataanmu penuh kasih, jangan hambar, seperti dibumbui garam.

1 Petrus 3:15

Siap memberi jawab, tapi dengan lemah lembut dan hormat. Bagian terakhir ini yang paling sering dilupakan.

Kolose 3:23

Kerjakan seperti untuk Tuhan. Kerja yang benar itu bagian dari kesaksian.

Yohanes 4:36

Penabur dan penuai sama-sama bersukacita. Kamu nggak harus jadi yang memanen.

Cara membawakan waktu sharing

Cukup untuk satu pertemuan 60 sampai 75 menit. Jangan dibaca dari atas ke bawah, nanti orang bosan.

Bagi waktunya

10 menit. Tanya dulu: siapa yang pernah canggung waktu ngomongin Tuhan sama teman kerja? Biarkan 2 sampai 3 orang cerita. Jangan dilewat. Kalau mereka cerita duluan, sisanya jadi masuk.

15 menit. Tiga gambar di halaman depan. Tunjukkan gambarnya, jangan dibacakan teksnya.

25 menit. Tiga fase. Minta tiap orang menyebut satu nama teman kerjanya, lalu buka fase yang cocok dan centang tanda-tandanya bareng.

15 menit. Latihan berpasangan. Tiap orang bikin 3 kalimat kecil, diucapkan ke pasangannya, pasangannya menebak lampunya hijau kuning atau merah. Bagian ini yang bikin orang berani, bukan penjelasannya.

10 menit. Tanya jawab dan doa bersama.

Yang harus dijaga

Ceritakan kegagalanmu sendiri di awal. Kalau kamu terdengar sudah jago, mereka merasa ini bukan buat mereka.

Jangan bikin mereka merasa bersalah karena selama ini diam. Rasa bersalah bikin orang tambah takut, bukan tambah berani.

Tutup dengan target kecil. Satu kalimat kecil per hari, bukan target jiwa.

Tanya lagi 2 minggu kemudian. Tanpa ditanya lagi, biasanya berhenti sendiri.